KESEHATAN REPRODUKSI DALAM PERSPEKTIF FIQIH

  • Musyarofah
Keywords: reproduksi, fiqh, hak dan kewajiban suami istri

Abstract

Sesungguhnya Islam tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Yang membedakan adalah unsur takwanya saja. Pijakan filosofi ini penting untuk menghapus stigma bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan. Bahwa laki-laki berhak menjadi pemimpin dan perempuan wajib mematuhinya. Stigma superioritas laki-laki atas perempuan banyak memunculkan pelanggaran dalam rumah tangga. Berbagai pelanggaran ini tidak pernah diajarkan oleh ajaran Islam. Tapi pelanggaran ini justeru muncul dari ego kuasa seorang suami untuk selalu memimpin isterinya, terutama pada aspek kesehatan reproduksi. Penolakan seorang isteri selalu dimaknai sebagai pembangkangan atas perintah suami. Padahal, bisa saja, justeru pihak suami sendirilah yang tidak pantas menjadi figur seorang pemimpin rumah tangga. Oleh karena itulah, relasi suami isteri dalam kesehatan reproduksi ini perlu dipahami secara proporsional.

Published
2018-12-30