TELAAH KRITIS TERHADAP QAUL QADIM DAN QAUL JADID

  • Ainul Yaqin
Keywords: ijtihad, qoul qodim, qoul jadid, at-tarjih

Abstract

Imam asy-Syafi’i merupakan sosok mujtahid yang berupaya memadukan antara mazhab Ahlu al-Hadist yang tumbuh subur di Hijaz dan ahlu al-Ra’y
yang membudaya di Irak. Imam asy-Syafi’i banyak mengeluarkan beberapa buah aktivitas ijtihadnya pada dua tempat yang berbeda, yaitu Irak dan Mesir. Fatwa-fatwa yang beliau cetuskan pada waktu berdomisili di Irak dikenal dengan qaul qadim, sedangkan fatwa-fatwa yang beliau keluarkan di Mesir dikenal dengan qaul jadid. Di Negeri Seribu Menara beliau bertemu, berbaur, dan berdiskusi dengan fuqoha al-muhaddits sehingga ia memperoleh hadits-hadits yang memiliki mata rantai sanad shaheh, atsar sahabat yang valid, dan ijma’ sahabat. Setelah beliau meninjau kembali fatwa-fatwa yang dibangun di Negeri Seribu Satu Malam, ia menemukan kerapuhan dalil-dalil yang dibuat pijakan. Akhirnya, beliau mencetuskan hukum baru (qaul jadid) yang dibangun atas dalil-dalil
lebih kuat. Pada generasi berikutnya, kalangan ulama’ syafi’iyah mengoreksi qaul qadim dan qaul jadid dengan melakukan pentarjihan atas dalil-dalil yang
mendukungnya. Mereka dalam beberapa kasus mentarjih qaul jadid lantaran diperkuat dalil-dalil yang lebih berkualitas dan mentarjih qaul qadim pada sebagian kasus karena memiliki sumber hukum yang kuat.

Published
2018-12-30